Main Article Content

Abstract

Artikel ini berupaya mengkritik absennya sejarah bencana ekologis di Indonesia dalam  Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam konteks pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam  (SKI) untuk tingkat Madrasah Aliyah (MA). Sementara salah satu nilai dalam KBC adalah  cinta lingkungan (hubbulbiah), namun KBC sama sekali tidak menyinggung sejarah bencana  ekologis atau kerusakan lingkungan yang pernah terjadi di Indonesia. Oleh karena itu,  artikel ini berusaha mencari solusi atas ketidakhadiran penulisan sejarah bencana ekologis  dalam kurikulum bersangkutan. Salah satu solusinya adalah peran guru SKI yang bertanggung  jawab untuk memaparkan, atau setidaknya menyelipkan, beberapa peristiwa yang  menyangkut bencana ekologis yang pernah berlangsung di Indonesia. Dengan begitu, peserta  didik lebih memahami betapa tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti penebangan  hutan untuk dijadikan lahan perkebunan sawit, pengalihfungsian lahan yang tidak pada  tempatnya, pencemaran udara melalui asap cerobong pabrik, merupakan tindakan yang tidak  terpuji. Peserta didik juga memahami betapa konflik antara warga dengan aparat kerap terjadi  akibat perebutan lahan yang hendak disulap menjadi destinasi wisata dengan dalih  pemberdayaan ekonomi setempat. Melalui pemahaman atas sejarah bencana ekologis, maka  salah satu nilai dalam KBC, yaitu cinta kepada lingkungan (hubbulbiah), menjadi lebih  konkret dan membumi bagi peserta didik. Guru SKI madrasah aliyah bisa menyisipkan  sekilas peristiwa-peristiwa bencana ekologis yang pernah terjadi di Indonesia. Guru juga bisa  membandingkan prosentase kerusakan lingkungan di masa kolonial dengan masa setelah  Kemerdekaaan, hingga pasca Reformasi dari zaman pemerintahan Susilo Bambang  Yudhoyono hingga Prabowo Subianto. Dengan begitu, peserta didik benar-benar paham  bahwa menjaga lingkungan, termasuk merawat hutan, menjaga sungai dan udara dari sampah  dan polusi udara merupakan perwujudan dari kecintaan kaum Muslim terhadap lingkungan beserta isinya. 

Keywords

Bencana Ekologis Kur Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah

Article Details

References

  1. Afryansyah, Afryansyah, and Muhammad Sirozi. “Pendidikan Humanis Melalui Internalisasi Kurikulum Berbasis Cinta Di Madrasah Aliyah Negeri.” Intelektual: Jurnal Pendidikan Dan Studi Keislaman 15, no. 2 (2025): 343–58. https://doi.org/10.33367/ji.v15i2.7484.
  2. Alfiansyah. “Mendidik Dengan Hati : Moderasi Beragama Melalui Kurikulum Berbasis Cinta Sebagai Solusi Atas Krisis Nilai Dan Empati Di Dunia Pendidikan Islam Menuju Pembangunan Berkelanjutan.” Jurnal Pemikiran Dan Pengembangan Pembelajaran 7, no. 2 (2025): 1–11. https://doi.org/https://doi.org/10.31970/pendidikan.v7i2.
  3. Anugrah, Adelia Salsabila, Mila Karmilah, and Boby Rahman. “Potret Krisis Sosio-Ekologi Kawasan Pesisir Dampak Reklamasi.” Journal of Urban and Regional Plaming 3, no. 1 (2022): 9–21. https://doi.org/10.26418/uniplan.v3i1.52818.
  4. Hakim, Lukmanul, and Irawan. “Merancang Pembelajaran PAI Berbasis KBC Untuk Menumbuhkan Sikap Cinta Ilmu Pada Materi Peradaban Islam Masa Abbasiyah.” An-Najah 05, no. 01 (2026): 3–12.
  5. Negara, Teddiansyah Nata. “Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Cinta Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kelas 8: Sejarah Berdirinya Daulah Abbasiyah Teddiansyah.” Al-Idarah: Journal of Islamic Education Management 1, no. 1 (2026): 1–14.
  6. Ngazijah, Nadiatul, Nadila Shafa Khairunisa, and Muhammaad Husain. “Pedagogi Eros: Menyemai Love Based Curriculum Dalam Ekologi Belajar Mendalami Di MA Al-Amiriyah Banyuwangi.” In 2nd Annual Islamic Conference for Learning and Management, 321–34, 2025.
  7. Noroyono, Bambang. “Ini Daftar Perusahaan Yang Diduga Menjadi Biang Kerok Banjir Di Sumatera.” Republika, 2025. https://news.republika.co.id/berita/t7b6a2377/ini-daftar-perusahaan-yang-diduga-menjadi-biang-kerok-banjir-di-sumatera.
  8. Pernaningtik, Nur Aniqa, Alif Akbar Maulana, Nabella Enita Putri Firnanda, and Nizam Ramadhan. “Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (Kbc) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di MA Nur Al-Jadid Waru Sidoarjo.” Journal of Innovative and Creativity 6, no. 1 (2026): 2081–91. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/joecy.v6i1.6771.
  9. Putri, Lintang Dwwi Fi’liya, and Dika Purnama Aulia Rohma. “Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Dalam Perspektif QS. Ali Imran [3]: 31 Membangun Ruh Cinta Kepada Allah, Rasul Dan Alam Dalam Pendidikan.” Pesantren Studies Annual Symposium on Pesantren Studies (Ansops) 04 (2025): 1–14.
  10. Randra, Trypama. “Bencana Sumatera: 25 Kabupaten/Kota Masih Berstatus Tanggap Darurat.” Detik.Com, 2025. https://news.detik.com/berita/d-8263368/bencana sumatera-25-kabupaten-kota-masih-berstatus-tanggap-darurat.
  11. ———. “Bencana Sumatera: 25 Kabupaten/Kota Masih Berstatus Tanggap Darurat.” Detik.Com, 2025. https://news.detik.com/berita/d-8263368/bencana-sumatera-25-kabupaten-kota-masih-berstatus-tanggap-darurat.
  12. Safitri, Eva. “Prabowo Ungkap Alasan Tak Tetapkan Bencana Nasional Banjir Sumatera.” Detik.Com, 2026. https://www.detik.com/sumut/berita/d-8287645/prabowo-ungkap-kembali-alasan-bencana-sumatera-tak-berstatus-nasional.
  13. Trinata, Anisa, Dimas Ramadhan Perdana, Ginda Harahap, Hasna Arifa Fadilah, Jason Renardi Marrino, Jonathan Putra Pamungkas, Meva Harahap, and Sofyan. Bencana Ekologis Mereduksi Resiko, Memulihkan Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Samudra Biru, 2025.